HIPERGLIKEMI PADA STROKE AKUT

Tanggal : 27-Jul-2018 | Dilihat : 170 kali

Mairina, SKM, M.Biomed, dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S,dr. Fatimah Yasin, SpPK, M.Kes

Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi 

Fase akut penderita stroke terjadi pada hari ke-0 sampai dengan hari ke-14 sesudah onset penyakit. Stroke Akut sering kali diikuti oleh munculnya hiperglikemia (Bravata, 2003). Hiperglikemia pada pasien yang belum / tidak terdiagnosis diabetes, dan dijumpai pada saat sakit akut disebut dengan “stress hiperglikemia”. Keadaan ini dapat muncul pada pasien stroke hemoragik maupun stroke non-hemoragik. Hiperglikemia terjadi sekitar 20-50% dari total pasien stroke akut dan berhubungan dengan keluaran klinis yang buruk. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 12- 53% pasien stroke akut tidak terdiagnosa diabetes sebelumnya (Capes, 2001).

Hiperglikemia merupakaan keadaan dimana kadar glukosa darah random berada di atas 140 mg/dl pada saat masuk rumah sakit (Shafi’i, dkk 2016). Keadaan hiperglikemia dapat merupakan tanda adanya diabetes mellitus, tetapi dapat pula merupakan respon stress yang mencerminkan keparahan kerusakan jaringan dan peningkatan katekolamin dalam serum. karena menimbulkan asidosis laktat yang berakhir pada kerusakan neuron, jaringan glia, dan jaringan vascular. Hiperglikemia berhubungan dengan peningkatan luas infark, menurunkan aliran darah otak, menyebabkan kelainan perdarahan dan lesi sawar otak, meningkatkan edema serebri, menghambat fribinolisis, meningkatkan trombosis, dapat meningkatkan produksi radikal bebas dan meningkatkan kadar neurotransmitter glutamate (Li, et al 2000).

Hiperglikemia menunjang proses kerusakan saraf dengan cara asidosis intraselular, akumulasi glutamat, edema otak, gangguan sawar darah otak, dan memacu kecenderungan transformasi hemoragik. Sehingga hiperglikemia berhubungan dengan peningkatan mortalitas dan disabilitas (Kagansky, 2001).

Respon stres akibat stroke akan meningkatkan pelepasan kortisol dan norepinefrin. Pelepasan kedua hormon tersebut akan diikuti dengan proses lipolisis dan defisiensi relatif insulin. kondisi hiperglikemia akan memacu kerusakan sel saraf akibat stroke. Pada kondisi stroke hemoragik, hiperglikemia memacu munculnya edema dan kematian jaringan sekitar hematoma (Lindsberg, 2004).

Pada stroke fase akut dapat terjadi hiperglikemia reaktif. Hiperglikemia memperburuk defisit neurologik (Slowik, 1998). Pemeriksaan kadar glukosa darah merupakan pemeriksaan yang perlu dilakukan karena gangguan neurologis dapat pula menjadi manifestasi dari hipoglikemia atau hiperglikemia. Hiperglikemia dapat terjadi baik pada penderita stroke yang memiliki riwayat diabetes Mellitus maupun yang tidak. Kadar glukosa darah random belum cukup bukti untuk digunakan sebagai prediktor yang baik untuk menentukan keluaran klinis pasien stroke iskemik fase akut, sehingga diperlukan indikator pemeriksaan lain yang lebih baik dalam memprediksi keluaran klinis pasien stroke fase akut. Untuk itu  HbA1c (hemoglobin adult type 1c) merupakan indikator pemeriksaan yang lebih baik dalam memprediksi keluaran klinis pasien stroke iskemik fase akut.

HbA1c atau hemoglobin glikat adalah bentuk ikatan molekul glukosa pada asam amino valin di ujung rantai beta molekul hemoglobin. Bila kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemia), maka melalui reaksi non-enzimatik, terjadi ikatan yang bersifat sementara. Bila kadar glukosa darah dalam hitungan jam segera kembali ke tingkat normal maka ikatan akan terurai kembali. Namun bila hiperglikemia lebih lama, maka ikatan tersebut berubah menjadi stabil dan menetap sebagai HbA1c Oleh karena hemoglobin terdapat di dalam eritrosit (sel darah merah) dan rerata masa hidup eritrosit 120 hari, maka kadar HbA1c mencerminkan rerata kadar glukosa selama jangka waktu 8-12 minggu sebelumnya. Jadi kadar HbA1c menunjukkan status kontrol glikemik jangka panjang. Pada stress hiperglikemia kadar HbA1c-nya normal dengan kadar glukosa tinggi (Davis, 2000). Peran pemeriksaan kadar HbA1c adalah untuk diagnosis dan penapisan DM selain pemeriksaan kadar glukosa darah. Kadar HbA1c untuk diagnosis DM adalah HbA1c ≥6,5%. Memeriksakan kadar HbA1c untuk mengetahui status kendali glikemik atau metaboliknya dalam upaya pengobatan stroke akut menjadi lebih baik. Nilai normal HbA1c: 5,7% - 6,4%  (International Expert Committee). Pemeriksaan HbA1c dapat digunakan untuk skrining dan diagnose diabetes. 

Pada pasien stroke iskemik akut tidak dapat dilakukan pemeriksaan kgd nuchter dan 2 jpp di IGD, sehingga pemeriksaan yang dapat digunakan adalah Hba1c.

Menurut penelitian Davis penderita stroke mengalami hiperglikemia non diabetic (terjadi peningkatan kadar gula darah dengan Hba1c normal) 6-11%. Sedangkan penelitian Kooten et al. mendapatkan hiperglikemi pada stroke akut sebanyak 43%. Menurut Melamed, angka kejadian hiperglikemi reaktif pada kasus stroke hemoragik 63% dan stroke iskemik 41%. Sedangkan Zacharia berpendapat pada stroke hemoragik mengalami hiperglikemi reaktif  54,7% dan pada stroke iskemik 47,6%, dimana rata-rata kadar gula darah puasa pada penderita stroke hemoragik lebih tinggi dari pada stroke iskemik.

Dampak hiperglikemi pada stroke dapat merupakan tanda diabetes melitus, tetapi dapat pula merupakan tanda respon neuroendokrin terhadap stress. Pada fase akut hiperglikemi  akan memperberat derajat defisit neurologik. hal ini merupakan salah satu variabel yang akan mempengaruhi beratnya kerusakan otak dan mempunyai hubungan dengan prognosis yang buruk. 

Bedasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan HbA1c dilakukan untuk skrining terhadap pasien diabetes yang tidak terdiagnosa dengan stroke hiperglikemik tanpa diagnosis diabetes. Agar dapat membuktikan kadar gula darah pada pasien stroke iskemik fase akut secara klinis. 

Hal ini pentingnya pemeriksaan Hba1c dilakukan di IGD dengan tujuan untuk menentukan skrining antara pasien stroke hiperglikemik tanpa diagnosis diabetes sebelumnya dengan penderita yang telah terdiagnosa diabetes, agar dapat digunakan untuk penatalaksanaan hiperglikemia reaktif sehingga terlaksananya managemen cepat dan tepat sehingga menimbulkan prognosa yang baik pada penderita stroke akut.  

DAFTAR PUSTAKA

  • Bravata D, Kim N, Concato J, Brass L. Hyperglicaemia in patients with acute ischaemic stroke : how often do we screen for undiagnosed diabetes. Q J Med 2003 ; 96 : 491-497.
  • Van Kooten F, Hoogerbrugge N, Naarding P, Koudstaal Pj. Hyperglycemia in the acute Phase of stroke is not caused by stress. Stroke 1993 : 24 : 1129-32.
  • Capes SE, Hunt D, Malmberg K, Pathak P, Gerstein HC. Stress Hyperglycemia and Prognosis of stroke in nondiabetic and diabetic patients.
  • Melamed E. Reactive Hyperglycaemia in patients with acute stroke. J Neurol Sciences 1976: 29 : 267-75.
  • Zacharia TS. Hyperglikemia reaktif pada stroke fase akut. Tesis Bagian Neurologi FKUI.1994.