IDENTIFIKASI PASIEN TEPAT ASUHAN AMAN DAN AKURAT

Tanggal : 11-Sep-2019 | Dilihat : 115 kali

"Bapak, boleh tolong sebutkan nama lengkap dan tanggal lahir Bapak?"

Di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas, klinik, dan lain lain, pertanyaan tersebut selalu terdengar ditanyakan oleh perawat, dokter atau Profesional Pemberi Asuhan (PPA) lain sebelum melakukan atau memberikan tindakan kepada pasien. Bagi pasien, kemungkinan besar akan merasa bosan, bahkan mungkin tersinggung karena petugas dianggap tidak hafal terhadap identitas pasiennya. Bagi Profesional Pemberi Asuhan, kemungkinan juga akan merasa bosan dan sungkan karena harus berkali-kali menanyakan identitas pasien. "Apalah arti sebuah nama” kita sering mendengar ungkapan tersebut. Sepenting apakah mengetahui nama seseorang, apalagi itu seorang pasien yang jelas-jelas identitasnya sudah tercatat di Rekam Medis? Kadang kita pun agak segan ketika harus mengungkapkan identitas kita. Jadi, mengapa kalimat pertanyaan tentang identitas di atas menjadi begitu penting?

Sebelum membahas tentang pentingnya identifikasi pasien, sebaiknya kita semua memahami apa yang dimaksud dengan identifikasi pasien dalam pelayanan kesehatan. Identifikasi pasien adalah suatu sistem identifikasi kepada pasien untuk membedakan antara pasien satu dengan pasien lain sehingga memperlancar atau mempermudah dalam pemberian pelayanan kepada pasien. Ketepatan identifikasi pasien menjadi hal yang penting, bahkan berhubungan dengan keselamatan pasien. Tujuan dilakukan identifikasi pasien adalah untuk memastikan ketepatan pasien yang akan menerima layanan atau tindakan, serta untuk menyelaraskan layanan atau tindakan yang dibutuhkan oleh pasien. Mengidentifikasi pasien dengan benar merupakan sasaran yang pertama dari enam Sasaran Keselamatan Pasien.

Pernahkan kita berpikir bahwa kesalahan identifikasi pasien dapat menyebabkan insiden yang membahayakan pasien?

Bayangkan ilustrasi berikut. NyMelati adalah seorang pasien yang dirawat di rumah sakit yang merawat ratusan jumlah pasien. Dalam proses perawatannya, Ny Melati mendapatkan obat untuk penyakit Diabetes Melitus yang dideritanya. Dalam waktu yang bersamaan, di kamar sebelah kamar Ny Melati ada pasien yang dirawat dengan penyakit jantung, dan kebetulan pasien tersebut juga bernama Ny. Melati. Jika tidak dilakukan proses identifikasi pasien dengan benar, bukan tidak mungkin obat Diabetes Melitus yang seharusnya diminum NY.Melati yang dengan penyakit Diabetes Melitus, justru diberikan dan diminum oleh NY.Melati yang mempunyai penyakit jantung. Atau yang lebih ekstrem, apa yang akan terjadi kalau NY Melati yang dengan penyakit Diabetes Melitus dibawa ke ruang operasi untuk tindakan kateterisasi jantung, yang seharusnya dilakukan untuk Ny Melati yang dengan penyakit jantung. Kasus yang lebih ekstrem lagi, kesalahan identifikasi dapat menyebabkan seorang bayi baru dilahirkan pulang ke keluarga yang salah! Sungguh tragis bila hal tersebut sampai terjadi.

Kasus kasus kesalahan identifikasi pasien, bukan hanya pasiennya saja yang dirugikan karena mengalami yang mengancam keselamatan pasien, PPA pun juga menanggung dampaknya berupa tudingan mal praktek yang sudah tentu menjadikan tekanan tersendiri. Belum lagi kalau masalah tersebut masuk ke ranah hukum, reputasi rumah sakit menjadi taruhannya. Karena pentingnya hal tersebut, maka dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS), rumah sakit diwajibkan untuk menetapkan regulasi untuk menjamin ketepatan identifikasi pasien. Kesalahan identifikasi pasien dapat terjadi disemua aspek diagnosis dan tindakan. Keadaan yang dapat membuat identifikasi pasien tidak benar adalah jika pasien dalam keadaan terbius, mengalami disorientasi, tidak sepenuhnya sadar, dalam keadaan koma, saat pasien berpindah tempat tidur, berpindah kamar tidur, berpindah lokasi di dalam lingkungan RS, terjadi disfungsi sensoris, lupa identitas diri atau mengalami situasi lainnya.

Identifikasi pasien dilakukan dengan menggunakan minimal 2 (dua) identitas dan tidak boleh menggunakan nomor kamar pasien atau lokasi pasien dirawat sesuai dengan regulasi rumah sakit. Proses identifikasi pasien perlu dilakukan sejak awal pasien masuk ke rumah sakit, yang kemudian identitas tersebut akan selalu dikonfirmasi dalam segala proses di rumah sakit.  Identifikasi pasien dilakukan sebelum dilakukan tindakan, prosedur diagnostik, dan terapeutik. Identifikasi pasien dilakukan sebelum pemberian obat, darah, produk darah, pengambilan spesimen, dan pemberian diet. Pasien juga harus diidentifikasi sebelum pemberian radioterapi, menerima cairan intravena, hemodialisis, pengambilan darah atau pengambilan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis, kateterisasi jantung, serta prosedur radiologi diagnostik. Identifikasi juga harus tetap dilakukan terhadap pasien koma.

Untuk memudahkan proses identifikasi, pasien yang dirawat di rumah sakit diberikan gelang identitas. Pada saat pemasangan gelang identitas, pasien harus diberitahu mengenai maksud dan tujuan pemasangan gelang identitas.  Tujuan pemasangan gelang identitas tersebut adalah untuk memastikan identitas pasien dengan benar dalam mendapatkan pelayanan dan pengobatan selama di rumah sakit. Selain tujuan, warna gelang identitas dan artinya pun juga harus dijelaskan. Gelang warna merah muda untuk pasien dengan jenis kelamin perempuan, biru untuk pasien dengan jenis kelamin laki-laki, merah untuk pasien dengan alergi obat, kuning untuk pasien dengan risiko jatuh, dan ungu untuk pasien yang menolak tindakan resusitasi (Do Not Rescucitation). Selain 5 (lima) warna yang sering dipakai tersebut, beberapa rumah sakit menambahkan jenis gelang  sesuai kondisi dan kasus yang ada di rumah sakit tersebut. Warna gelang hijau untuk pasien alergi latex, abu-abu untuk pasien kemoterapi, dan putih untuk pasien kelamin ganda.

Pasien dan keluarga juga harus diberikan penjelasan bahwa selama dalam perawatan, petugas akan selalu melakukan konfirmasi identitas dengan meminta pasien menyebutkan nama dan tanggal lahir untuk dicocokkan dengan data pada gelag identifikasi. Prosedur konfirmasi tersebut akan selalu dilaksanakan sebelum pegobatan atau tindakan seperti telah tersebut di atas. Hal ini dimaksudkan agar pasien dan keluarga tidak jengkel dan bosan bila sering diminta menyebut identitasnya.

Penjelasan yang harus diberikan juga mencakup bahayanya apabila pasien menolak dipasang gelang identitas, merusak, dan menutup gelang identitas. Pasien juga diingatkan bahwa pasien berhak untuk mengingatkan apabila petugas lupa tidak melihat gelang saat melakukan tindakan. Gelang pasien harus selalu dipakai sampai pasien diijinkan pulang, dan hanya boleh dilepas oleh petugas/perawat/dokter. Bila selesai memberikan penjelasan, petugas jangan lupa untuk melakukan verifikasi untuk mengetahui bahwa pasien dan keluarga paham atas informasi tersebut.

Pasangkan gelang identifikasi pada pergelangan tangan pasien yang dominan (sesuai dengan kondisi).Petugas harus memastikan gelang terpasang dengan baik dan nyaman untuk pasien. Jika gelang tidak bisa dipasang di pergelangan tangan pasien, kenakan pada pergelangan kaki. Jika tidak bisa dipasang pada pergelangan kaki, gelang bisa dipasangkan pada pakaian pasien di area yang terlihat jelas. Perlu dicatat dalam gelang identifikasi pasien bahwa gelang harus dipasang kembali jika pasien mengganti pakaian dan harus selalu bersama pasien setiap saat.

Selanjutnya, bagaimanakah cara melakukan identifikasi pasien secara tepat?

Petugas wajib bertanya langsung kepada pasien yaitu nama dan tanggal lahir pasien, dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Contoh pertanyaan terbuka adalah “ Bapak, boleh minta tolong untuk menyebutkan nama dan tanggal lahir bapak?” Bukan “ Apakah nama anda bapak Amir, dan tanggal lahir anda 1 Januari 1972?” Mengapa harus pertanyaan terbuka? Tidak menutup kemungkinan banyak pasien dengan nama sama, dan apabila petugas menggunakan pertanyaan tertutup, pasien akan  cenderung untuk mengangguk dan menjawab “ya” yang tentunya akan berisiko terjadinya kesalahan identifikasi.

Untuk pasien yang tidak sadar, nama dan tanggal lahir pasien bisa ditanyakan langsung kepada keluarga/ penunggu pasien.Cocokan nama dan tanggal lahir atau nomor rekam medis pada gelang pasien dengan data di formulir terkait. Untuk pasien rawat jalan yang tidak memakai gelang identitas, identifikasi pasien harus tetap dilakukan dengan bertanya langsung/pertanyaan terbuka kepada pasien.Data ini harus dikonfirmasi dengan yang tercantum pada rekam medis pasien.

Kesimpulan dari ulasan ini adalah bahwa untuk mencegah terjadinya kesalahan identifikasi pasien maka prosedur identifikasi pasien harus dilaksanakan secara seragam, benar dan tepat di seluruh unit pelayanan kesehatan, dengan tujuan untuk menjamin keselamatan pasien di rumah sakit. Dengan identifikasi yang tepat, pasien mendapatkan standar pelayanan dan pengobatan yang benar dan tepat sesuai kebutuhan/instruksi medis, pasien terhindar dari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam memberikan pelayanan, merasa aman dan nyaman serta dapat bekerjasama dalam menjalani perawatan atau prosedur layanan di rumah sakit.

Setelah membaca ulasan di atas, masihkan sebagai petugas atau Profesional Pemberi Asuhan  akan merasa bosan untuk melakukan identifikasi pasien secara konsisten? Masihkan sebagai pasien akan merasa sebal karena berkali - kali ditanya oleh petugas dan harus menyampaikan identitas berupa nama dan tanggal lahir?

Salam keselamatan pasien........

Penulis

F.Arie Nursanti,S.Kep.Ns.,M.Kes

Artikel