KATARAK DAN PENANGANANNYA PADA PASIEN STROKE, DIABETES DAN HIPERTENSI

Tanggal : 18-Apr-2019 | Dilihat : 262 kali
dr.Irawadi,SpM

RUMAH SAKIT STROKE  BUKITTINGGI

PENDAHULUAN

Katarak adalah kekeruhan lensa yang mengarah kepada penurunan ketajaman visual dan/atau cacat fungsional yang dirasakan oleh pasien. Katarak memiliki derajat kepadatan yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, biasanya akibat proses degenatif.

Katarak merupakan penyebab utama kebutaan secara global . Lima puluh satu persen (51%) kebutaan diakibatkan oleh katarak atau sekitar 20 juta orang diseluruh dunia (WHO,2012), dan angka ini bertambah lebih dari satu juta penduduk setiap tahunnya, sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan usia bertahan hidup.

Untuk mengatasi masalah katarak ini para dokter mata telah melakukan banyak operasi katarak dengan tujuan utama mendapatkan fungsi penglihatan yang lebih baik dengan penyembuhan luka operasi yang lebih cepat dan komplikasi yang minimal. semua tujuan ini dapat tercapai dengan menggunakan teknik operasi katarak yang sudah di standarisasi oleh persatuan ahli mata seluruh dunia yaitu dengan menggunakan teknik Fakoemulsifiksi.

KLASIFIKASI

Katarak dapat terjadi sebagai akibat dari penuaan atau sekunder oleh faktor herediter, trauma, inflamasi, metabolisme atau kelainan nuntrisi, atau radiasi. Tiga jenis umum katarak adalah nuleus, cortical, dan posterior subcapsular. Klasifikasi katarak dapat dilihat pada table:

PATOLOGI

Aging proses

 Katarak terkait disebabkan oleh usia paling sering ditemukan pada kelainan mata yang menyebabkan gangguan pandangan. Pathogenesis dari katarak terkait usia multifactor dan belum sepenuhnya dimengerti. Berdasarkan usia lensa, terjadi peningkatan berat dan ketebalan serta menurunnya kemampuan akomodasi. Sebagai lapisan baru serat kortical berbentuk konsentris, akibatnya nucleus dari lensa mengalami penekanan dan pergeseran (nucleus sclerosis). Cristalisasi (protein lensa) adalah perubahan yang terjadi akibat modifikasi kimia dan agregasi protein menjadi high-molecular-weight-protein. Hasil dari agregasi protein secara tiba tiba mengalami fluktuasi refraktif index pada lensa, cahaya yang menyebar, penurunan pandangan. Modifiaksi kimia dari protein nucleus lensa juga menghasilkan progressive pigmentasi.perubaha lain pada katarak terkait usia pada lensa termasuk menggambarkan konsentrasi glutatin dan potassium dan meningkatnya konsentrasi sodium dan calcium.

Obat yang meniduksi perubahan lensa

Corticosteroid. Penggunaan kosticosterod jangka panjang dapat meginduksi terjadinya PSCs. Tergantung dari dosis dan durasi dari terapi, dan respon individual terhadap corticosteroid yang dapat menginduksi PSCs. Terjadinya katarak telah dilaporkan melalui beberapa rute : sistenik, topical, subkonjungtival dan nasal spray.

Phenotiazine.Phenotiazine merupakan golongan mayor dari psycotropic medikasi, dapat terjadi deposit pigmen pada anterior epitelium lensa pada konfigurasi axial. Deposit tersebut dapat terjaditergantung dari dosis dan lama pemberian.

Miotics.Antikolinestrase dapat menginduksi katarak.

Trauma. Kerusakan lensa akibat trauma dapat disebabkan oleh peradangan mekanik, kekuatan fisikal (radiasi, kimia, elekrik)

KATARAK METABOLIK

Diabetes mellitus

Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan dari lensa, refraktif index dan kemampuan akomodasi. Jika glukosa darah meningkat, juga meningkatkan komposisi glukosa dalam humor aqueous. Glukosa pada aqueous juga akan berdifusi masuk ke dalam lensa, sehingga komposisi glukosa dalam lensa jug akan meningkat. Beberapa dari glukosa akan di konfersi oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol. Yang mana tidak akan dimetabolisme tetapi tetap di lensa.

Setelah itu, perubahan tekanan osmotik menyebabkan influk cairan ke dalam lensa, yang menyebabkan pembengkakan lensa. Fase saat terjadinya hidrasi lenti dapat memnyebabkan perubahan kekuatan refraksi dari lensa. Pasien dengan diabetes bisa menyebabkan perubahan refraksi. Pasien dengan diabetes dapat terjadi penurunan kemampuan akomodasi sehingga presbiop dapat terjadi pada usia muda.

Katarak adalah penyebab tersering kelainan visual pada pasien dengan diabetes. Terdapat 2 tipe klasifikasi katarak pada pasien tersebut. True diabetic cataract, atau snowflake cataract, dapat bilateral, onset terjadi secara tiba tiba dan menyebar sampai subkapsular lensa, tipe ini biasa terjadi pada usia dengan diabetes mellitus yang tidak terkontrol. kekeruhan menyeluruh supcapsular seperti tampilan kepingan salju terlihat awalnya di superfisial anterior dan korteks posterior lensa. Vacuola muncul dalam kapsul lensa. Pembengkakan dan kematangan katarak kortikal terjadi segera sesudahnya. Peneliti percaya bahwa perubahan metabolik yang mendasari terjadinya true diabetic cataract pada manusia sangat erat kaitannya dengan katarak sorbitol yang dipelajari pada hewan percobaan. Meskipun true diabetic cataract jarang ditemui pada praktek klinis saat ini, Setiap dilaporkannya katarak kortikal matur bilateral pada anak atau dewasa muda sebaiknya diwaspadai oleh klinisi kemungkinan diabetes mellitus.

 Tingginya resiko katarak terkait usia pada pasien dengan diabetes mungkin akibat dari akumulasi sorbitol dalam lensa, berikutnya terjadi perubahan hadration dan peningkatan glikosilasi protein pada lensa diabetik.

Galactosemia

Galactosemia adalah inherediter autosomal resesif ketidakmampuan untuk menkonversi galactosa menjadi glukosa. Pada pasien dengan galaktosemia, 75% akan berlanjut menjadi katarak. Akumulasi dari galaktosa dan galakttitol dalam sel lensa akan meningkatkan tekanan osmotic dan influk cairankedalam lensa. Nucleus dan kortex bagian dalam menjadi lebih keruh, disebabkan oleh “oildroplet.

Efek Dari Nutrisi

Meskipun difesiensi nutrisi dapat menyebabkan katarak pada percobaan melalui binatang, etiologi ini masih sulit dimengerti untuk terjadinya katarak pada manusia.

Stroke Pada Penderita Diabetes dan kejadian Katarak pada Stroke

Salah satu faktor risiko stroke adalah penyakit diabetes melitus, prevalensi yang paling tinggi adalah stroke iskemik. Penyebab diabetes melitus menjadi stroke iskemik adalah terjadinya proses aterosklerosis. Kira-kira 30% pasien dengan aterosklerosis otak terbukti adalah penderita diabetes. Terjadinya hiperglikemia menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah besar maupun pembuluh darah perifer disamping itu juga akan meningkatkan agegrat platelet dimana kedua proses tersebut dapat menyebabkan aterosklerosis. Hiperglikemia juga dapat meningkatkan viskositas darah yang kemudian akan menyebabkan naiknya tekanan darah atau hipertensi dan berakibat terjadinya stroke iskemik. Proses makroangiopati dianggap sangat relevan dengan stroke dan juga terdapat bukti adanya keterlibatan proses makroangiopati yang ditandai terjadinya stroke lakunar pada penderita diabetes melitus. Menurut jurnal National Stroke Association, seseorang dengan penyakit diabetes melitus berisiko terkena stroke 4 kali dari pada seseorang yang tidak menderita diabetes.

Terlepas adanya kontroversi yang berkaitan dengan patofisiologi stroke dan katarak, sebuah penelitian mendapatkan bahwa para penderita stroke menginginkan fungsi penglihatan yang baik untuk meningkatkan status fungsional dan kualitas hidup mereka.Oleh karena itu, pasien stroke memiliki keinginan yang lebih kuat untuk melakukan operasi katarak setelah terserang stroke akut.

Dalam sebuah penelitian penderita  stroke akut memiliki  kebutuhan sekitar  30% untuk melakukan operasi katarak setelah 5 tahun pasca stroke akut. Hubungan sekuensial stroke dan operasi katarak ini dapat dijelaskan bahwa kecacatan yang disebabkan stroke mendorong kebutuhan pasien akan penglihatan yang lebih baik untuk meningkatkan kemandirian mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penglihatan yang buruk yang disebabkan oleh katarak dapat dihindarkan.

FAKOEMULSIFIKASI

Phacoemulsification telah menjadi standar utama pada operasi katarak selama dekade terakhir baik di negara maju maupun negara berkembang. Saat ini fakoemulsifikasi telah mengalami perkembangan yang cepat dan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu penyembuhan luka yang cepat dengan komplikasi luka yang kecil, rehabilitasi visus yang cepat, komplikasi post operasi yang ringan, dan astigmatisma post operasi yang tidak signifikan yang disebabkan insisi operasi yang kecil (2,5mm-3,00mm).

PUSTAKA

1. Murril A.C, Stanfield L.D, Vanbrocklin D.M, Bailey L.I, Denbeste P.B, Dilomo C.R, et all. (2004). Optometric clinical practice guideline. American optometric association: U.S.A

2. Vaugan G. D, Asbury T, Eva R.P. (2000). Oftalmologi umum. Bab.20 lensa hal 401-406. Edisi 14. Widya medika : Jakarta.

3. Titcomb, Lucy C. Understanding CataractExtraxtion, last update 22 November 2010.

4. Zorab, A. R, Straus H, Dondrea L. C, ArturoC, Mordic R, Tanaka S, et all. (2005-2006).Lens and Cataract. Chapter 5 Pathologypage 45-69. Section 11. American Academyof Oftalmology : San Francisco.

5. Ilyas S. (2007). Ilmu Penyakit Mata. Tajampenglihatan, kelainan refraksi danpenglihatan warna hal 72-75. Edisi 3. BalaiPenerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.