MENGENAL PREEKLAMPSIA PADA IBU HAMIL

Tanggal : 19-Apr-2018 | Dilihat : 275 kali

Hakekat seorang manusia adalah untuk bereproduksi, berkembang biak dan membentuk keluarga serta melahirkan seorang anak. Untuk itu kehamilan merupakan suatu keadaan yang ditunggu banyak perempuan yang sudah menikah untuk memiliki anak. Kehamilan merupakan suatu proses alamiah pada kehidupan. Dibidang kesehatan, proses tersebut sering disebut fisiologis, namun kehamilan tidak selalu berjalan secara alamiah atau fisiologis, kadang terjadi kelainan-kelainan baik selama kehamilan ataupun selama persalinan. Proses ini sering disebut sebagai suatu keadaan patologis. Keadaan patologis ini dapat menyebabkan kecacatan bahkan sampai kematian pada ibu maupun bayi.

Kematian ibu masih merupakan masalah kesehatan dunia yang perlu diperhatikan. Pada tahun 2013, WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa terdapat 800 perempuan meninggal karena komplikasi kehamilan dan melahirkan. Hampir semua kematian tersebut terjadi didaerah yang masih kekurangan tenaga kesehatan yang memadai. Sedangkan di Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilakukan pada tahun 2012, terdapat 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. 

Terdapat tiga penyebab utama kematian ibu selama kehamilan diseluruh dunia, yaitu perdarahan, hipertensi atau sering kita kenal tekanan darah tinggi dan infeksi. Di Indonesia, menurut data Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) KementerianKesehatan RI 2012 menunjukkan, 32,4% penyebab kematian ibu melahirkan diakibatkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi. Penyakit hipertensi pada kehamilan ada berbagai macam, salah satunya preeklampsia yang paling sering timbul pada kehamilan.

Preeklampsia digambarkan sebagai sindrom khusus kehamilan yang dapat mengenai setiap sistem organ. Preeklampsia paling sering mengenai perempuan muda, kehamilan kembar, usia ibu lebih dari 40 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti terjadinya preeclampsia masih belum diketahui. Tapi beberapa peneliti meyakini bahwa penyebab preeclampsia adalah kelainan pada ari-ari (Plasenta). Preeklampsia biasanya menimbulkan gejala seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala, mata berbayang, kaki bengkak, dan sakit uluhati. Pembagian preeclampsia saat ini banyak yang mengacupada NHBPEP (National High Blood Pressure Education Program) (2000), yaitu preeklamsi ringan dan preeklamsi berat.

Penegakan preeklampsia bila terdapat tekanan darah lebih dari 140 mmHg pada sistol atau 90 mmHg pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Selain itu ditambah dengan adanya proteinuria. Pengobatan preeclampsia dilakukan sesuai dengan usia kehamilan. Bila kehamilan belum cukup bulan, maka pengobatannya biasa difokuskan untuk menghilangkan atau meringankan gejala serta mempertahankan kehamilannya sampai cukup bulan. Sedangkan bila kehamilan sudah cukup bulan maka dilakukan upaya kelahiran.

Sampai saat ini, preeklamsia masih merupakan momok bagi kematian ibu, pada ibu bias menyebabkan terjadinya kejang, stroke, gagal ginjal, DIC sampai kematian ibu. Sedangkan pada janin dapat mengakibatkan bayi premature, kelainan neurologis sampai kematian. Untuk itu diharapkan setiap ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan teratur, guna menjaga kehamilannya untuk tetap sehat dan berjalan alamiah dan juga mencegah terjadinya kelainan pada kehamilan yang tidak diinginkan. 

(HUMAS RSUP SANGLAH) 

Artikel