SISTEM RUJUKAN BERBASIS KOMPETENSI PERMUDAH PELAYANAN PASIEN

Tanggal : 07-Sep-2018 | Dilihat : 330 kali

Pekanbaru – Sistem rujukan seringkali dianggap sebagai faktor penghambat bagi pasien dalam memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya, karena dinilai membutuhkan waktu lebih lama, terjadi peningkatan biaya kesehatan, pelayanan kesehatan yang tidak sesuai kompetensi, pasien mengumpul pada beberapa fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga akhirnya menurunkan kepuasan pasien.

Pelaksanaan sistem rujukan yang berjenjang ini juga mengalami hambatan terkait faktor geografis, jarak, transportasi, dan keterbatasan fasilitasi pelayanan kesehatan di daerah. Penataan sistem rujukan pelayanan kesehatan kedepan diarahkan melalui regionalisasi rujukan, secara berjenjang dan juga menggunakan sistem rujukan berbasis kompetensi fasilitas pelayanan kesehatan, ungkap Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, dr. Tri Hesty Widyastoeti, Sp.M, MPH saat Workhosp Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Berbasis Kompetensi (6/9).

Apa yang dimaksud sistem rujukan berbasis kompetensi ini? Dijelaskannya bahwa sistem pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas kasus penyakit tertentu dari satu fasyankes yang mempunyai kompetensi terhadap suatu jenis penyakit kepada fasyankes kompetensi yang lebih mampu atau fasyankes dibawahnya dengan kompetensi pada jenis penyakit yang sama.

Kompetensi fasyankes memberikan pelayanan kesehatan dapat dilihat dari Kewenangan Pelayanan (Severity Level), SDM, Sarana Prasarana dan Alat Kesehatan, penunjang diagnosa dan obat yang tersedia, jelasnya.

Melalui implementasi sistem rujukan berbasis kompetensi yang dipadukan dengan sistem regionalisasi secara berjenjang, mampu menjawab faktor hambatan yang terjadi pada sistem rujukan.

Rujukan pelayanan kesehatan akan berjalan lebih efektif dan efisien, jika ditunjang sistem IT yang mampu menghubungkan komunikasi dan koordinasi antar fasyankes. Saat ini Kemenkes telah memiliki aplikasi Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute) yang dapat mempermudah proses merujuk pasien, komunikasi antar fasyankes, tracking ambulance, konsultasi dan ketersediaan SDM. Saat ini telah ada 1.268 fasyankes yang terintegrasi dengan sisrute. Selanjutnya, aplikasi Telemedicine Indonesia (Temenin) digunakan fasyankes untuk tele-USG, tele-radiologi dan tele-konsultasi, ungkap dr. Hesty sapaan akrabnya.

Dalam implementasinya membutuhkan persepsi yang sama, koordinasi dan dukungan yang baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, fasyankes, dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kab/kota, asuransi kesehatan, stakeholder terkait dan masyarakat.

dr. Hesty menjelaskan saat ini sedang dilakukan penyusunan severity level penanganan kasus, dimana diharapkan dinas kesehatan provinsi, kabupaten dan kota bertanggung jawab melakukan pemetaan dan penataan alur rujukan pelayanan kesehatan berdasarkan kompetensi pelayanan kesehatan suatu penyakit di setiap fasyankes. Alur rujukan pasien tidak terpaku pada kelas rumah sakit melainkan pada kompetensi fasyankes terhadap pelayanan kesehatan suatu penyakit. Kami akan melakukan pilot project pada 3 Provinsi (Yogyakarta, Riau dan Maluku).

**Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-5277734 atau alamat e-mail:humas.yankes@gmail.com